Dari Luar Kotak

Saya pernah mendengar seorang kawan saya berkata bahwa untuk mendapatkan sebuah pandangan yang menyeluruh, terkadang kita harus keluar dari kotak yang ingin kita lihat. Jika saya ditanya apakah saya setuju dengan hal itu sebelum saya mengikuti program Pertukaran Pemuda Indonesia-Kanada (PPIK) tahun lalu, maka saya cenderung menjawab, “Untuk apa? Toh kita sudah bisa memahami apa saja yang ada dalam kotak itu…”. Ternyata program PPIK yang saya ikuti bulan September 2008 hingga Maret 2009 lalu benar-benar mengubah paradigma saya, khususnya bagaimana memandang suatu hal. Kekayaan budaya bangsa kita adalah salah satunya.

Jika kotak yang saya maksud diatas adalah Indonesia, maka berada diluar kotak dapat diartikan dengan berada diluar Indonesia. Sudah barang tentu kita tahu jika bangsa kita sangat kaya akan budaya. Buka saja Wikipedia dan ketikkan “Indonesia”. Sejenak kemudian kita akan melihat banyak kekayaan milik kita (jangan terkejut, karena sejak SD kita sudah mendapatkan pelajaran mengenai Indonesia), mulai dari jumlah pulau, suku, dialek (bahasa daerah), tarian, lagu, kerajinan tangan, makanan, sebut saja semuanya. Wikipedia mengatakan jika terdapat sekitar 300 suku di Indonesia, namun dalam situs yang sama baru tersedia 75 artikel mengenai suku-suku tersebut. Masih dari Wikipedia, jangan terkejut juga jika ternyata native speaker bahasa Indonesia lebih banyak dari bahasa Belanda, atau native speaker bahasa Jawa ternyata lebih banyak dari native speaker bahasa Prancis, bahkan menempati posisi 11 teratas bahasa yang paling banyak digunakan di dunia. Boleh saja kita berbangga diri dan hal ini sangat wajar mengingat kita adalah pemilik dari kekayaan itu. Jika kita kembali dengan pandangan “diluar kotak”, tentu saja akan lebih adil saat kita berbangga jika ada penilaian dari yang tidak ikut memiliki kekayaan itu.

Salah seorang kawan dari host-family yang saya tinggali bertanya pada saya tentang asal saya. Saat saya menjawab “Indonesia”, dengan spontan dia menjawab “Oh, yang terkena tsunami itu ya?”. Seorang peserta dalam kelompok saya pernah mendapat respon “Sebelah mananya Bali?” dengan pertanyaan yang sama. Keduanya masih lebih baik, karena mereka mengenal kata “Indonesia” dan “Bali”. Namun tidak jarang juga yang merespon “Wah, saya baru mendengar nama itu” meskipun hanya dengan melihat raut wajah mereka yang “pura-pura mengerti”. Inilah salah satu penilaian tentang Indonesia.

Penilaian yang lain tentang Indonesia cukup membanggakan. Saat saya bercerita didepan murid-murid SD disana, saya menyampaikan seperti yang Wikipedia katakan: terdapat sekitar 300 suku, 400 dialek bahasa daerah, ribuan tarian dan lagu daerah. Tak lama kemudian, ketiga guru dalam ruangan itu, secara tidak sadar, membuka mulut sambil membelalakkan mata mereka seakan-akan berkata “Yang benar saja?!”. Bandingkan dengan penjelasan yang saya kutip dari dokumen Kedutaan Besar Kanada di Indonesia, “Kanada mempunyai dua bahasa resmi : Bahasa Inggris, bahasa ibu dari 59% penduduk Kanada, dan bahasa Perancis, bahasa pertama dari 23% penduduk. Sebesar 18% mempunyai lebih dari satu bahasa ibu atau bahasa ibu selain bahasa Inggris atau Perancis, seperti bahasa Cina, Italia, Jerman, Polandia, Spanyol, Portugal, Punjab, Ukraina, Arab, Belanda, Tagalog, Yunani, Vietnam, Cree, Inuktitut, atau bahasa lain”.

Sangat banyak penilaian positif lain yang bisa saya ceritakan, mungkin di lain kesempatan. Penutup artikel ini saya fokuskan pada satu pertanyaan reflektif untuk diri saya sendiri, “Apa yang sudah saya lakukan dengan kekayaan-kekayaan itu?”.

Muhammad Rodlin Billah
Peserta Pertukaran Pemuda Indonesia Kanada 2008/2009