I Call Australia My Second Home

Tanggal 12 Oktober 2008 merupakan hari bersejarah bagi saya. Hari itu pertama kali saya pergi keluar negeri. Tidak hanya itu, yang membuat istimewa adalah embel-embel nama kontingen Indonesia yang saya emban. Hal ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Program yang dibiayai penuh oleh pemerintah kedua negara ini memberi ruang bagi pemuda Indonesia untuk berinteraksi secara langsung dengan masyarakat Australia dan juga sebaliknya (people to people contact).

Kegiatan utama selama fase Australia menyangkut tiga hal, yaitu:
Pertama, interaksi dengan keluarga Australia agar saya mengenal secara dekat cara hidup keseharian mereka. Selama 2 bulan pertama, total saya tinggal dengan 3 keluarga angkat asli Australia. Tentunya ada beberapa culture shock yang saya alami. Beberapa contoh misalnya saya sempat kaget ketika air untuk minum sama dengan air untuk cuci piring, karena air keran bisa diminum langsung. Hehe.. Kemudian di Sydney, orang gemar berjalan dan menggunakan transportasi umum. Saya yang di Indonesia terbiasa membawa motor kemana-mana kewalahan ketika harus jalan 20 menit menuju stasiun kereta listrik atau halte bus setiap pagi untuk berangkat kerja magang.

Adapun kekhawatiran saya sebelum berangkat bahwa akan tidak diterima oleh masyarakat Australia terkait isu terorisme tidak terbukti. Keluarga yang saya tempati semuanya ramah dan terbuka. Saya dianggap bagian keluarga sendiri dan bahkan mereka sempat menangisi kepergian kami ketika fase Australia berakhir. Kami banyak bertukar pandangan mengenai budaya dan cara hidup masing-masing, yang membuat saya berpikir ulang mengenai banyak hal. Saya menjadi lebih terbuka terhadap ide-ide dan inspirasi baru. Ternyata dunia jauh lebih luas daripada yang saya tahu selama ini.

Kedua, kesempatan untuk kerja magang di perusahaan Australia sesuai minat dan latar belakang studi. Saya yang sekarang sedang belajar Manajemen Pemasaran di Universitas Airlangga berhasil ditempatkan di perusahaan ekspor-impor di Sydney. Bagaimana warga Australia membuat perencanaan, melakukan riset pasar dan competitor, mencari supplier, dan ilmu-ilmu praktis lain yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah bisa saya pelajari disini. Apalagi ketika itu, pemilik perusahaan memasukkan saya dalam proyek untuk mengimpor barang kerajinan Indonesia ke Australia. Benar-benar pengalaman yang berharga membayangkan produk kerajinan Indonesia akan menempati rak-rak supermarket di Australia beberapa waktu setelah itu, dan saya ikut andil di dalamnya.

Kemudian kegiatan utama yang ketiga adalah pertunjukan kesenian tiap minggu di sekolah, universitas dan ruang publik. Dalam kesempatan ini, saya dan kontingen bisa memperkenalkan seni dan budaya Indonesia pada masyarakat Australia dengan cakupan lebih luas. Kami serasa menjadi artis dadakan di negeri orang. Hehe.. Tidak jarang penampilan kami diliput media cetak, radio, dan bahkan TV nasional. Meskipun kami bukan penari atau penyanyi profesinal, pada tiap penampilan kami berusaha menyentuh hati masyarakat Australia bahwa kami adalah bangsa ramah yang memiliki keragaman budaya. Saat-saat seperti itu membuat saya sangat bangga menjadi bangsa Indonesia karena bisa menampilkan kekayaan budaya pada masyarakat asing. Apalagi ketika kontingen memilih saya sebagai Cultural Performance Coordinator, otomatis saya harus usaha ekstra untuk mengorganisasikan kesenian dari berbagai daerah. Usaha keras tersebut terbayar ketika dalam tiap penampilan, sambutan dan apresiasi yang diberikan begitu luar biasa. Namun, hal yang paling menginspirasi saya, Melanie Morrison, ibu angkat saya bahkan berkata “Forget about marketing Lia, be a dancer!”. Padahal saya sama sekali bukan penari. Penasaran, saya pun membuat klub tari Saman sepulang program di Surabaya, dan sampai sekarang saya menikmatinya. 🙂

Fase di Indonesia yang Tak Kalah Seru.

Meski 2 bulan di Australia terasa kurang, namun 18 pemuda Australia sudah menunggu kami untuk petualangan berikutnya di fase Indonesia. Kami akan menjalani berbagai kegiatan bersama diantaranya community empowerment di daerah pedesaan di Lumajang, Jawa Timur, kerja magang di Surabaya, dan tidak lupa pertunjukan kesenian gabungan antara Indonesia dan Australia.

Titik berat fase Indonesia ini adalah counterparting. Tiap peserta Indonesia akan dipasangkan dengan peserta Australia dan akan tinggal bersama keluarga angkat. Counterparting dimaksudkan agar 2 pemuda beda negara dan budaya ini dapat memahami satu sama lain secara lebih dekat. Counterpart saya, Erin Prince dari Melbourne, adalah master di bidang biologi laut. Ketertarikannya akan segala hal berbau laut dan juga kegemarannya traveling membuat saya terinspirasi. Cerita-cerita petualangannya selalu menarik. Saya dan Erin merasa cocok karena kami berdua suka kegiatan outdoor dan juga partner yang kompak dalam tiap petualangan.

Kontingen kami yang sekarang total berjumlah 36 pemuda dari Indonesia dan Australia, bersama-sama merasakan pengalaman hidup di desa dan juga melakukan pemberdayaan komunitas. Kami melakukan pembangunan fisik dan non fisik, seperti membangun perpustakaan, pelatihan internet bagi karang taruna, kampanye budaya hidup bersih, mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar, kerja bakti, kunjungan ke berbagai perkebunan, rekreasi bersama dll.

Program yang berjalan selama 4 bulan ini benar-benar membuka mata dan membuat perubahan besar dalam hidup saya. Terima kasih pada Kementerian Pemuda dan Olahraga Indonesia atas kesempatan yang diberikan. Terima kasih pada Pemerintah Australia atas keramahan dan kesempatan mencicipi kebudayaan Australia. Terima kasih pada alumni baik yang tergabung di PCMI Jawa Timur maupun alumni AIYEP dari seluruh Indonesia. Terima kasih pada 17 teman-teman perwakilan dari propinsi-propinsi di Indonesia dan juga 18 teman-teman dari Australia atas pengalaman, petualangan dan kenangan yang telah kita ciptakan bersama dan akan terus menjadi keluarga selamanya.

My life would never be the same again.

Hilyatuz Zakiyyah
Peserta Program Pertukaran Pemuda Indonesia-Australia 2008/2009